Rabu, 14 Juni 2017

PENGENLAN MINERAL BIJIH

                                                          PENGENLAN MINERAL BIJIH


*      Tekstur tekstur replecement-somatisme
          Diakibatkan oleh suatu mineral menempai/menggantikan tempat dari mineral lain yang sudah ada terlebih dahulu. Proses yang menyebabkan dapat berupa proses hidrotermal, metamorfosis, dan pelapukan.
Scara geometris tekstur ini oleh GRGORIEFF dibagi sebagai berikut:
v  Filiform : penggantian dalam bentuk jaring-jaring vientles halus.
v  Cellular : Hanya terdapat dari sisa pengggantian
v  Shredded : sisa penggantian dalam bentuk ppotongan angular, kadang sisanya cekung.
v  Skeleton Shapped : penggantian yang mengikuti orientasi kristalografi.
v  Zonal : umumnya sebagai hasil dari eksolusi.
v  Dendritic : Mineral tergantikan sepanjang bidang belahan.
v  Cement shapped : Semen intergranular telah tergantikan seecara seelektif, biasanya pada batuan sedimmen.
*        Struktur pita dan rhymic layer terdiri atas :
v  Evenly Layerd : Lapisan yang terjadi secara merata dan lurus.
v  Bent Layerd : Lapisan yang menekuk.
v  Konsentris : Lapisan yang berkeliling.
v  Ooilitik dan Konsentris : Berbentuk bulat, terutama padaa hasil sedimentasi tapi dapat juga terjadi akibat kristalisasi idrotermal pada suhu rendah.
v  Porous Granular : Butiran dengan lubang pori di ats batas butir.

*      Pengamatan Mineral Bijih
A. Sifat Bijih
      Sifat fisik adalah penampakan secara fisik dari suatu mineral bijih.
1. Bentuk dan habitat
Mineral mineral yang keras cenderung untuk membentuk Kristal yang berkembang dengan baik contohnya adalah pirit, hematite, wolframit, arenopit, cobalit dan magnetit.Mineral yang lunak perkembangan kristalnya kurang baik contohnya kalkopirit, galena, dan tetrahidrit. (Ulva Ria Irfan, 2006). Untuk mendapatkan gambaran yang lebih baik perlu dilakukan etsa terhadap permukaan dibidang poles. Karena bidang poles yang diamati berupa bidang 2 dimensi maka bentuk yang tampak adalah bentuk Kristal yang berpotongan dengan permukaan bidang poles. Istilah istilah untuk menunjukan bentuk dan habitat sama dengan yang dipergunakan dalam mineralogi seperti bentuk euhedral, subhedral, anhedral, acicular, tabular, spheroidal, granular, reticulate, radial, bladed, foliate, konsentris, colloforn, fibrous. (Ulva Ria Irfan, 2006).
2. Cleavage dan fracture
Cleavage atau belahan adalah sifat fisik suatu mineral bijih yang mempunyai kecenderungan untuk membelah atau pecah sepanjang bidang tertentu yang searah dengan kohesi terkecil. Belahan ini pada umunya sejajar dengan permukaan Kristal. (Ulva Ria Irfan, 2006).
Fracture atau pecahan adalah sifat fisik suatu mineral yang mempunyai kecenderungan untuk pecah tidak beraturan (setelah melewati batas batas elastic dan plastisnya). Cleavage dalam bidang poles ditandai dengan satu set atau lebih rekahan parallel baik distinct maupun indistinct. Mineral dapat menunjukan satu sampai tiga set rekahan parallel tergantunng jumlah bidang rekah yang terdapat dalam mineral dan orientasi bidang poles. Contoh pada galena , triangular, pits terjadi akibat tiga arah rekahan yang berbeda. Biasanya terjadi pada belahan kubus, octahedral, rhombohedral dan dodecahedral . Belahan prismatic menghasilkan pola rectangular, segitiga atau diamond-shapped. Belahan pinakoid mengahsilkan suatu set rekahan paralel.(Ulva Ria Irfan, 2006).
3. Kembaran atau twinning
Pada mineral isotrop, kembaran dapat ditunjukkan oleh perubahan orientasi belahan sedangkan pada mineral isotrop dapat juga ditentukan oleh perbedaan warna pada bagian dan posisi tertentu. Untuk mendapatkan bentuk kembaran yang jelas dapat dilakukan etsa. (Ulva Ria Irfan, 2006).
4. Tekstur Bijih
Tekstur bijih adalah hubungan antar mineral dalam suatu bijih. Dari tekstur ini dapat diketahui gambaran awal pembentuk bijih, metamorfosa, lingkungan pengendapan, deformasi, dan pelapukan bijih (Ulva Ria Irfan, 2006).
Tekstur terbagi atas :
Tekstur Primer : terjadi saat pembentukan bijih
Tekstur Sekunder : terjadi setelah pembentukan bijih baik akibat proses placement, pengaruh lingkungan pengendapan, atau deformasi mekanis
5. Kekerasan
Kekerasan dari suatu mineral dapat bervariasi menurut orientasi butiran mineral. (Ulva Ria Irfan, 2006).
Ada 3 jenis kekerasan identifikasi mineral yaitu :
1.      Scratch hardness : dengan cara menggoreskan permukaan mineral dengan jarum baja dibawah pengamatan mikroskopi . kekerasan relative oleh S.B Talmaga dibagi tujuh tingkat , Argentit-Galena-Kalkopirit-Tetrahidrit-Niccolite-Magnetit-Limenit.
2.      Microhardness : menggunakan microhardnesss indenter. Ada dua jenis indenter yaitu Knop dan Vickers. Dengan cara ini mineral dapat ditentukan secara kuantitatif .
3.      Polishing hardness : berkaitan dengan reistentsi mineral terhadap abrasi. Pada saat dipoles , mineral yang lebih lunak akan lebih cepat terkikis daripada mineral yang keras sehingga terlihat reliefnya
lebih tinggi dibawah mikroskopi.
B. Sifat Optik
1. Nikol sejajar
                  Pengamatan sifat-sifat optik tanpa mempengaruhi analisator.
a. Warna
Sebagian besar mineral bijih memiliki kisaran warna putih sampai abu abu dengan perbedaan yang sedikit sekali. Untuk membedakan dibutuhkan banyak latihan . Tetapi mineral mineral dengan perbedaan warna yang sedikit sekali dapat dibedakan jika letaknya berdampingan. Warna warna mineral akan sedikit berbeda tergantung dari jenis mineral asosiasinya . Untuk lebih memunculkan perbedaan warna dapat digunakan medium immersinya. (Ulva Ria Irfan, 2006).
b. Reflektivitas
Reflektivitas sangat tergantung pada perbedaan antara indeks biasnya dengan indeks bias medium (udara, minyak, dll). Untuk mengukur relfektivitas dipergunakan alat microphotoeters dan photoelectric . Mineral mineral transparent tanpa gelap dibawah mikroskop reflexi karena hanya sedikit sekali memantulkan sinar (Ulva Ria Irfan, 2006).

c. Pleokrisme
Untuk menentukan sifat ini dilakukan dengan memutar meja objek mikroskop. Pleokrisme dipengaruhi oleh sifat isometric mineral dan bidang polesnya . Sistem Kristal lain yang isotrop tidak menunjukkan perubahan warna atau kecermelangan selama meja mikroskop diputar maka mineral tersebut tidak memiliki pleokrisme. Jika terjadi perubahan harus dilihat apakah perubahan yang terjadi sangat jelas atau sedikit saja. Pleokrisme pada suatu mineral dapat dibagi menjadi pleokrisme lemah sedang atau kuat. (Ulva Ria Irfan, 2006).
Pleokrisme merupakan fungsi dari indeks bias medium immerse. Semakin besar indeks bias medium semakin kuat pleokrismenya. Pleokrisme juga merupakan fungsi dan orientasi kristalografis. (Ulva Ria Irfan, 2006). Sebagai conto pada Kristal hexagonal atau tetragonal. Bidang yang tegak lurus sumbu C tidak akan menunjukan pleokrisme sedangkan bidang yang sejajar sumbu C akan menunjukan pleokrisme maksimum. (Ulva Ria Irfan, 2006).
2. Nikol silang
              Pengamatan sifat-sifat optik dengan menggunakan isolator.
a. Isotrop / anisotrop
Jika suatu bidang poles diamati dengan manggunakan poliarisator dan anilasator secara bersamaan (nikol silang) dan menunjukan salah satu sifat. (Ulva Ria Irfan, 2006).
         Sifat tersebut antara lain:
1. Tetap gelap selama mikroskop diputar 360°.
2. Sangat lemah teriluminasi (agak gelap benar) tetapi tidakmenunjukan perubahan baik dalam intensitas iluminasi atau warna selama mikroskop diputar 360°. Maka bidang poles mineral tersebut bersifat isotrop sedangkan jika terjadi perubahan warna atau teriluminasi selama meja mikroskop diputar, maka bidang poles tersebut bersifat anisotrop. Sifat anisotrop ini dapat lemah dan kuat tergantung pada refleksitas pada sumbu sumbu optisnya. Setiap mineral dengan sistem kristal isometrik secara teoritis mempunyai sistem kristal isometrik. Karena setiap bidang yang tegak lurus terhadap sumbu optisnya pasti isotrop apapun sistim kristalnya. Hal yang perlu diperhatikan adalah mineral seperti pirit yang isometric dapat menunjukan sifat isotropi pada bidang poles yang tidak terlalu baik.
b. Warna interspensi
             Pada nikol saling mineral anisotrop dapat menunjukan perubahan iluminasi atau perubahan warna (warna interpensi). Pada beberapa mineral sifat ini sangat berguna sebagai petunjuk identifikasi. (Ulva Ria Irfan, 2006).
 Tetapi sifat ini jarang digunakan karena :
1. Warna interferensi hanya akan konstan jika nikol betul betul silang
2. Sulit menentukan istilah standar yang tepat untuk warna yang tampak
3. Warna interferensi yang berbeda untuk tiap mikroskop terutama dari jenis yang lama
4. Sangat diperlukan iluminasi yang konstan untuk hasil yang tepat
c. Refleksi dalam
Beberapa mineral biji yang sedikit transparan membuat sebagian sinar yang jatuh pada permukaannya dapat menembus lebih dalam. Sinar yang menembus tersebut ada yang kembali dipantulkan melalui rekahan atau batas batas butir Kristal . hasilnya adalah pancaran cahaya yang menyebar dari dalam Kristal dapat juga berupa satu lebih pancaran cahaya. (Ulva Ria Irfan, 2006). Sifat ini sangat berguna untuk identifikasi karena hanya mineral mineral tertentu yang menunjukannya. Refleksi dalam snagat jelas pada nikol silang dan pencahayaan yang kuat. Pada butiran yang halus sifat ini sangat sulit terlihat . Komposisi kimia juga mempengaruhi sifat ini seperti Sphalerit dnegan kandungan besi rendah akan menunjukan sifat dalam yang jelas. (Ulva Ria Irfan, 2006).
    d. Tekstur Bijih
Tekstur bijih adalah hubungan antara mineral dalam suatu endapan bijih . Dalam hal ini dapat diketahui gambaran pembentukan awal bijih, metamorfosa, lingkungan pengendapan, kemungkinan pengolahannya , deformasi dan pelapukan dari bijih. Hal yang perlu diperhatikan dalam pengamatan tekstur bijiih banyak tekstur yang mempunyai kemiripan penampakan tapi proses pembentukannya mungkin saja berbeda. (Ulva Ria Irfan, 2006).
Untuk memperjelas tekstur bijih yang terbentuk akibat dari proses hidroternal maka akan diberikan tahapan yang terjadi selama pembentukan deposit hidroternal sebagai berikut :
a)     Masuknya larutan hidronternal bersuhu tinggi kedalam lingkungan yang lebih rendah sehingga terjadi presipitasi dan terbentuknya mineral awal.
b)    Puncak dari pengaruh hal tersebut terhadap pasukan mineral dan pemanasan akan menyebablan asosiasi mineral yang terbentuk lebih awal dapat terubah akibat penambahan unsure lain atau dapat juga terjadi asosiasi mineral baru yang lebih stabil pada suhu yang lebih tinggi
c)     Penurunan aktvitas mineral akibat akan perbedaan komposisi kimia dari larutan hidrotermal , mineral mineral yang terbentuk pada tahap pertama akan kedua akan ikut berubah. Selain itu itu unsure unsure yang belum terbentuk pada tahap sebelumnya akan mengalami presipitasi










PENGENLAN MINERAL BIJIH

                                                           PENGENLAN MINERAL BIJIH       Tekstur tekstur replecement-somatisme        ...