Diakibatkan oleh suatu mineral
menempai/menggantikan tempat dari mineral lain yang sudah ada terlebih dahulu.
Proses yang menyebabkan dapat berupa proses hidrotermal, metamorfosis, dan
pelapukan.
Scara geometris tekstur ini oleh
GRGORIEFF dibagi sebagai berikut:
v Filiform : penggantian dalam bentuk
jaring-jaring vientles halus.
v Cellular : Hanya terdapat dari sisa
pengggantian
v Shredded : sisa penggantian dalam
bentuk ppotongan angular, kadang sisanya cekung.
v Skeleton Shapped : penggantian yang
mengikuti orientasi kristalografi.
v Zonal : umumnya sebagai hasil dari
eksolusi.
v Dendritic : Mineral tergantikan
sepanjang bidang belahan.
v Cement shapped : Semen intergranular
telah tergantikan seecara seelektif, biasanya pada batuan sedimmen.
v Evenly Layerd : Lapisan yang terjadi
secara merata dan lurus.
v Bent Layerd : Lapisan yang menekuk.
v Konsentris : Lapisan yang berkeliling.
v Ooilitik dan Konsentris : Berbentuk
bulat, terutama padaa hasil sedimentasi tapi dapat juga terjadi akibat
kristalisasi idrotermal pada suhu rendah.
v Porous Granular : Butiran dengan lubang
pori di ats batas butir.
A. Sifat Bijih
Sifat fisik adalah penampakan secara fisik dari suatu
mineral bijih.
1. Bentuk dan habitat
Mineral
mineral yang keras cenderung untuk membentuk Kristal yang berkembang dengan
baik contohnya adalah pirit, hematite, wolframit, arenopit, cobalit dan
magnetit.Mineral yang lunak perkembangan kristalnya kurang baik contohnya
kalkopirit, galena, dan tetrahidrit. (Ulva Ria Irfan, 2006). Untuk mendapatkan
gambaran yang lebih baik perlu dilakukan etsa terhadap permukaan dibidang
poles. Karena bidang poles yang diamati berupa bidang 2 dimensi maka bentuk
yang tampak adalah bentuk Kristal yang berpotongan dengan permukaan bidang
poles. Istilah istilah untuk menunjukan bentuk dan habitat sama dengan yang
dipergunakan dalam mineralogi seperti bentuk euhedral, subhedral, anhedral,
acicular, tabular, spheroidal, granular, reticulate, radial, bladed, foliate,
konsentris, colloforn, fibrous. (Ulva Ria Irfan, 2006).
2. Cleavage dan fracture
Cleavage
atau belahan adalah sifat fisik suatu mineral bijih yang mempunyai
kecenderungan untuk membelah atau pecah sepanjang bidang tertentu yang searah
dengan kohesi terkecil. Belahan ini pada umunya sejajar dengan permukaan
Kristal. (Ulva Ria Irfan, 2006).
Fracture atau pecahan adalah sifat
fisik suatu mineral yang mempunyai kecenderungan untuk pecah tidak beraturan
(setelah melewati batas batas elastic dan plastisnya). Cleavage dalam bidang
poles ditandai dengan satu set atau lebih rekahan parallel baik distinct maupun
indistinct. Mineral dapat menunjukan satu sampai tiga set rekahan parallel
tergantunng jumlah bidang rekah yang terdapat dalam mineral dan orientasi
bidang poles. Contoh pada galena , triangular, pits terjadi akibat tiga arah
rekahan yang berbeda. Biasanya terjadi pada belahan kubus, octahedral,
rhombohedral dan dodecahedral . Belahan prismatic menghasilkan pola rectangular,
segitiga atau diamond-shapped. Belahan pinakoid mengahsilkan suatu set rekahan
paralel.(Ulva Ria Irfan, 2006).
3. Kembaran atau twinning
Pada
mineral isotrop, kembaran dapat ditunjukkan oleh perubahan orientasi belahan
sedangkan pada mineral isotrop dapat juga ditentukan oleh perbedaan warna pada
bagian dan posisi tertentu. Untuk mendapatkan bentuk kembaran yang jelas dapat
dilakukan etsa. (Ulva Ria Irfan, 2006).
4. Tekstur Bijih
Tekstur
bijih adalah hubungan antar mineral dalam suatu bijih. Dari tekstur ini dapat
diketahui gambaran awal pembentuk bijih, metamorfosa, lingkungan pengendapan,
deformasi, dan pelapukan bijih (Ulva Ria Irfan, 2006).
Tekstur terbagi atas :
Tekstur Primer : terjadi saat
pembentukan bijih
Tekstur Sekunder : terjadi setelah pembentukan
bijih baik akibat proses placement, pengaruh lingkungan pengendapan, atau
deformasi mekanis
5. Kekerasan
Kekerasan
dari suatu mineral dapat bervariasi menurut orientasi butiran mineral. (Ulva
Ria Irfan, 2006).
Ada 3 jenis kekerasan identifikasi mineral
yaitu :
1. Scratch hardness : dengan cara
menggoreskan permukaan mineral dengan jarum baja dibawah pengamatan mikroskopi
. kekerasan relative oleh S.B Talmaga dibagi tujuh tingkat ,
Argentit-Galena-Kalkopirit-Tetrahidrit-Niccolite-Magnetit-Limenit.
2. Microhardness : menggunakan
microhardnesss indenter. Ada dua jenis indenter yaitu Knop dan Vickers. Dengan
cara ini mineral dapat ditentukan secara kuantitatif .
3. Polishing hardness : berkaitan dengan
reistentsi mineral terhadap abrasi. Pada saat dipoles , mineral yang lebih
lunak akan lebih cepat terkikis daripada mineral yang keras sehingga terlihat
reliefnya
lebih tinggi dibawah mikroskopi.
B. Sifat Optik
1. Nikol sejajar
Pengamatan sifat-sifat optik tanpa
mempengaruhi analisator.
a. Warna
Sebagian besar mineral bijih memiliki
kisaran warna putih sampai abu abu dengan perbedaan yang sedikit sekali. Untuk
membedakan dibutuhkan banyak latihan . Tetapi mineral mineral dengan perbedaan
warna yang sedikit sekali dapat dibedakan jika letaknya berdampingan. Warna
warna mineral akan sedikit berbeda tergantung dari jenis mineral asosiasinya .
Untuk lebih memunculkan perbedaan warna dapat digunakan medium immersinya.
(Ulva Ria Irfan, 2006).
b. Reflektivitas
Reflektivitas sangat tergantung pada
perbedaan antara indeks biasnya dengan indeks bias medium (udara, minyak, dll).
Untuk mengukur relfektivitas dipergunakan alat microphotoeters dan
photoelectric . Mineral mineral transparent tanpa gelap dibawah mikroskop
reflexi karena hanya sedikit sekali memantulkan sinar (Ulva Ria Irfan, 2006).
c. Pleokrisme
Untuk menentukan sifat ini dilakukan
dengan memutar meja objek mikroskop. Pleokrisme dipengaruhi oleh sifat
isometric mineral dan bidang polesnya . Sistem Kristal lain yang isotrop tidak
menunjukkan perubahan warna atau kecermelangan selama meja mikroskop diputar
maka mineral tersebut tidak memiliki pleokrisme. Jika terjadi perubahan harus
dilihat apakah perubahan yang terjadi sangat jelas atau sedikit saja.
Pleokrisme pada suatu mineral dapat dibagi menjadi pleokrisme lemah sedang atau
kuat. (Ulva Ria Irfan, 2006).
Pleokrisme merupakan fungsi dari indeks
bias medium immerse. Semakin besar indeks bias medium semakin kuat
pleokrismenya. Pleokrisme juga merupakan fungsi dan orientasi kristalografis.
(Ulva Ria Irfan, 2006). Sebagai conto pada Kristal hexagonal atau tetragonal.
Bidang yang tegak lurus sumbu C tidak akan menunjukan pleokrisme sedangkan
bidang yang sejajar sumbu C akan menunjukan pleokrisme maksimum. (Ulva Ria
Irfan, 2006).
2. Nikol silang
Pengamatan sifat-sifat optik dengan menggunakan isolator.
a. Isotrop / anisotrop
Jika
suatu bidang poles diamati dengan manggunakan poliarisator dan anilasator
secara bersamaan (nikol silang) dan menunjukan salah satu sifat. (Ulva Ria
Irfan, 2006).
Sifat tersebut antara lain:
1. Tetap gelap selama mikroskop diputar
360°.
2. Sangat lemah teriluminasi (agak
gelap benar) tetapi tidakmenunjukan perubahan baik dalam intensitas iluminasi
atau warna selama mikroskop diputar 360°. Maka bidang poles mineral tersebut
bersifat isotrop sedangkan jika terjadi perubahan warna atau teriluminasi
selama meja mikroskop diputar, maka bidang poles tersebut bersifat anisotrop.
Sifat anisotrop ini dapat lemah dan kuat tergantung pada refleksitas pada sumbu
sumbu optisnya. Setiap mineral dengan sistem kristal isometrik secara teoritis
mempunyai sistem kristal isometrik. Karena setiap bidang yang tegak lurus
terhadap sumbu optisnya pasti isotrop apapun sistim kristalnya. Hal yang perlu
diperhatikan adalah mineral seperti pirit yang isometric dapat menunjukan sifat
isotropi pada bidang poles yang tidak terlalu baik.
b. Warna interspensi
Pada nikol saling mineral anisotrop
dapat menunjukan perubahan iluminasi atau perubahan warna (warna interpensi).
Pada beberapa mineral sifat ini sangat berguna sebagai petunjuk identifikasi.
(Ulva Ria Irfan, 2006).
Tetapi
sifat ini jarang digunakan karena :
1. Warna interferensi hanya akan
konstan jika nikol betul betul silang
2. Sulit menentukan istilah standar
yang tepat untuk warna yang tampak
3. Warna interferensi yang berbeda
untuk tiap mikroskop terutama dari jenis yang lama
4. Sangat diperlukan iluminasi yang
konstan untuk hasil yang tepat
c. Refleksi dalam
Beberapa
mineral biji yang sedikit transparan membuat sebagian sinar yang jatuh pada
permukaannya dapat menembus lebih dalam. Sinar yang menembus tersebut ada yang
kembali dipantulkan melalui rekahan atau batas batas butir Kristal . hasilnya
adalah pancaran cahaya yang menyebar dari dalam Kristal dapat juga berupa satu
lebih pancaran cahaya. (Ulva Ria Irfan, 2006). Sifat ini sangat berguna untuk
identifikasi karena hanya mineral mineral tertentu yang menunjukannya. Refleksi
dalam snagat jelas pada nikol silang dan pencahayaan yang kuat. Pada butiran
yang halus sifat ini sangat sulit terlihat . Komposisi kimia juga mempengaruhi
sifat ini seperti Sphalerit dnegan kandungan besi rendah akan menunjukan sifat
dalam yang jelas. (Ulva Ria Irfan, 2006).
d.
Tekstur Bijih
Tekstur
bijih adalah hubungan antara mineral dalam suatu endapan bijih . Dalam hal ini
dapat diketahui gambaran pembentukan awal bijih, metamorfosa, lingkungan
pengendapan, kemungkinan pengolahannya , deformasi dan pelapukan dari bijih.
Hal yang perlu diperhatikan dalam pengamatan tekstur bijiih banyak tekstur yang
mempunyai kemiripan penampakan tapi proses pembentukannya mungkin saja berbeda.
(Ulva Ria Irfan, 2006).
Untuk
memperjelas tekstur bijih yang terbentuk akibat dari proses hidroternal maka
akan diberikan tahapan yang terjadi selama pembentukan deposit hidroternal
sebagai berikut :
a)
Masuknya
larutan hidronternal bersuhu tinggi kedalam lingkungan yang lebih rendah
sehingga terjadi presipitasi dan terbentuknya mineral awal.
b)
Puncak
dari pengaruh hal tersebut terhadap pasukan mineral dan pemanasan akan menyebablan
asosiasi mineral yang terbentuk lebih awal dapat terubah akibat penambahan
unsure lain atau dapat juga terjadi asosiasi mineral baru yang lebih stabil
pada suhu yang lebih tinggi
c)
Penurunan
aktvitas mineral akibat akan perbedaan komposisi kimia dari larutan hidrotermal
, mineral mineral yang terbentuk pada tahap pertama akan kedua akan ikut
berubah. Selain itu itu unsure unsure yang belum terbentuk pada tahap
sebelumnya akan mengalami presipitasi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar